Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tugas Kita Bukan Hanya Percaya, Tapi Juga Percayakan

 


Manusia memiliki sebuah hal yang tidak bisa kita jelaskan yaitu yang namanya kasih sayang, cinta, dan nyawa. 

Kadang tak sengaja muncul kita bisa mengalami yang namanya mabuk asmara dan kadang juga kita bisa sangat benci sekali kepada seseorang padahal hanya menyakiti hal yang sangat kecil dan tidak disengaja.

Dalam dunia perasaan penuh dengan yang namanya nafsu, karena sejatinya manusia diberikan hak dalam menjalani hidup ini untuk memilih dan dipilih. Bahkan memilih untuk tidak memilih adalah sebuah hak juga bagi kita.

Memilih dan dipilih sangat erat kaitannya dengan pihak lain. Dimana, kedua pihak harus muncul yang namanya percaya atas apa yang di pilih. Entah itu memilih siapa dan apakah saya cocok untuk dipilih. Kita harus percaya bahwa apa yang telah kita ambil ya kita setujui.

Secara tak sadar, kepercayaan kita semakin hari dan bertambahnya tingkat kedewasaan seseorang dipacu dan ditantang untuk memilih untuk percaya lebih atau sedang. Sedangkan dulu, ketika masih kecil tingkat percaya kita bisa sangat bulat.

Misalnya, ketika masa kecil kita tidak punya uang, maka akan minta kepada ayah atau ibu. Ketika tidak diberi kita percaya bahwa memang tidak punya uang. kepercayaan lainnya yaitu kalau minta sama Mbah Pasti dikasih.

~ sesederhana itu dalam dunia percaya dan tidak

Sekarang, ketika kita memasuki dunia yang sungguh panas ini dunia percaya tidak hanya sekedar percaya. Risiko lah yang harus kita pertimbangkan matang-matang sebelum menentukan percaya atau tidak.

Contohnya saja, Kita misalnya sebagai ketua panitia sebuah acara kecil-kecilan. Kita akan sangat dipaksa dan bertaruh dengan kata PERCAYA. Kita harus percaya kepada pihak yang lain sebagai sponsorship akan memberi dana yang tidak merugikan kita, kita harus percaya kepada pihak partner, dan yang paling krusial kita harus percaya kepada tim kerja kita.

Tim kerja tak hanya yang se-level, tetapi banyak tingkatan dibawahnya seperti anggota, staff, wakil dan lainnya. Jika kita dalam melaksanakan hanya berpedoman pada "saya percaya", kita akan sangat kualahan dan sangat tidak menikmati perjalanan pelaksanan acara.

~ Kenapa? karena kita tidak ada kata "percayakan" dalam "saya percaya"

Yaps, tugas kita dalam berkehidupan ini harus memadukan antara "saya percaya dan saya percayakan" atau "Jika kamu percaya, maka percayakan"

Saya percaya bahwa kamu bisa mengelola bidang media dan dekorasi, maka saya percayakan kepadamu bidang ini dengan beberapa dasar yang harus kamu pegang dan laksanakan supaya benar sesuai jalan.

Dengan menjalankan kedua hal tersebut, niscaya nantinya pekerjaan akan cepat selesai dan akan berjalan sesuai dengan arahan yang sudah disepakati. Akan tetapi jika hanya berpegang pada "saya percaya", maka kita akan susah sekali mengapresiasi orang lain yang bekerja dengan kita. Apapun yang mereka kerjakan akan terlihat kurang dan kurang.

~ Itu dalam kehidupan sesama manusia. Bagaimana dengan-Nya.

Ya, tugas kita bukan hanya percaya kepada-Nya. Tetapi kita harus percayakan semuanya kepada-Nya. Kita akan selalu ragu setiap saat apabila hanya menggunakan kata percaya, tetapi kita akan yakin dan baik apabila juga kita percayakan.

Oleh karena itu, kita sangatlah disyaratkan dan diwajibkan untuk berserah diri (tawakal) kepada Allah SWT. 

  1. Kita pertama percaya (iman) bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya yang mau berusaha. 
  2. Maka setelah itu kita harus berusaha (ikhtiyar) sebagai dasar yang kita pegang (syariat).
  3. Setelah berusaha semaksimal mungkin yang terkahir adalah percayakan kepada-Nya. Apapun hasilnya nanti kita tidak akan pernah tau, dan apapun itu pasti baik bagi kita.
Dengan begitu kita tidak akan berburuk sangka terus kepada-Nya dan kadang sampai muncul kata-kata yang menyakitkan-Nya, seperti "Kok Tuhan Tidak Adil ya?".

~ Itu karena kita hanya percaya tapi kita tidak percayakan.

Percaya - Laksanakan Tugas(Syariatnya) - Percayakan

Bagi saya, apabila kita percaya dan telah melaksanakan sesuai dengan pedoman yang ada serta kita percayakan sepenuhnya apa yang telah kita lakukan benar maka tidak ada kata "rugi" tetapi yang ada adalah kata "bersyukur" 

Kita tidak bisa mengendalikan hasil akhir, tetapi kita bisa mengendalikan proses dengan baik supaya hasilnya bisa lebih baik. Preventif. Oleh karena itulah dibuatlah pedoman supaya hasil akhir sesuai dengan keinginan kita (misalkan kitab suci).

Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

1 comment for "Tugas Kita Bukan Hanya Percaya, Tapi Juga Percayakan"