Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sumbu Pendek yang Menjamah Hatimu



Sore itu tak sengaja aku bertemu dengan teman lama yang mungkin baru ketemu sekali sebelum pertemuan itu sehingga tak salah jika kita lupa namanya dan mulailah perkenalan ulang sambil mengingat-ingat kapan pertemuan pertama.

Manusia memang kadang lupa akan suatu hal bukan berarti dia tidak perhatian atau tidak memprioritaskan. Walaupun otak manusia bisa menyimpan sekali ingatan tapi kita juga harus bisa memanggil kembali file yang tesimpan lama itu kan apalagi kalau nyimpannya di-private ya susah.

Manusia juga pernah salah terutama salah bicara, tetapi tidak sesering seperti aku makan 3 kali sehari (rutin amat ya). Salah itu tidak masalah asalkan tidak sering saja dan melukai itu juga manusiawi tetapi jangan diulang dan segeralah meminta maaf.

Masalah pertemanan sekarang memang sedikit susah jika dibandingkan ketika masih kita masih kecil atau mungkin dimasa ibuk bapak kita. Sekarang apa-apa serba sensitif padahal itu adalah hal yang terkadang memang untuk mencari atau memulai suatu bahasan.

Misalnya aku yang sudah lama tidak bertemu kawan lama SMA yang mungkin bisa dikatakan dekat. Akan tetapi, sejak lulus pertemanan ya masih biasa lanjut tak ada masalah tetapi memang intensitas sangat jarang sekali. Sekali ketemu ya pengennya menanyakan banyak hal terutama kabar.

Menanyakan kabar yang paling mudah adalah “bagaimana kabarmu sekarang, cah?” itudasar dan mungkin ditambahi “saiki dimana e?”.

Pertanyaan dasar ini tidak ada masalah bagi kita. Akan tetapi, bagi sebagian orang mengapa pertanyaan sepele seperti ini hanya untuk membuka pembicaraan dianggap hal yang sensititif? Apalagi pertanyaan yang menyangkut hal-hal umum seperti berikut.

“Saiki kerja dimana?”
“Sekarang kesibukannya bagaimana?”

Atau hanya sekedar, “eh iya kamu dah Tugas Akhir ya, bagaimana TA ne?”

Pertanyaan dasar itu kebanyakan orang bukan untuk menyindir kalian atau bahkan orang yang bertanya bukan berniat neko-neko. Hanya ingin menanyakan saja tidak dijawab ya sudah dijawab ya Alhamdulillah kan.

Ada juga pertanyaan yang sebenarnya mudah untuk dijawab dan mungkin karena ada rasa 'bosan' sedang 'nafsu' mengikatnya menjadi sangat garing sekali kadang kasihan juga buat yang sudah mau bertanya.

"Eh lagi apa, sudah makan belum?"
"Udah ngapain aja seharian?"

Eh malah dijawab dengan kalimat yang panjangnya bak esai aja yang intinya adalah "gak ada pertanyaan lain gitu? kok tiap hari itu aja yang agak bermutu" Tidak semua orang pandai membuka pembicaraan lo ya.

Disisi lain, ketika ada teman kalian yang mungkin jarang ketemu dan menanyakan itu karena mereka ingin bicara dan sambil mencari topik selanjutnya. Kalau dia teman yang baik menanyakan masalah itu siapa tau bisa membantu atau bahkan malah membantu balik kepada kita jika ternyata ada lowongan pekerjaan yang saling memberi tau.

Hal yang aneh ketika malah yang ditanya menganggap bahwa pertanyaan itu sindirian atau bahkan ada yang bilang “heleh iyo-iyo, kamu sebenarnya pengen didpuji kan? Pengen ditanya balik kan, sombong ah.”

Haaa kan susah kalo sudah begini, inginnya ngopi biar rileks malah jadi menegangkan bak bertanya kepada kekasih ditanya mau makan dimana jawabnya terserah.

Kalau semua begitu apa-apa serba sensitif dan mengatasnamakan toxic ya berarti menurutku bisa dikatakan kamu sendiri yang toxic pada dirimu sendiri. Tidak bisa menerima apapun dari luar (padaha dia obat) tetapi kamu sendiri yang menolak (kamu adalah virus). Akibatnya banyak sekali kawan yang sumbu pendek.

Belum sampai mendalami pembicaraan sudah berani menyimpulkan isi dan niatan seseorang. Jangan sampai hati kita yang toxic pada diri kita sendiri. Jika kita mulai sumpek dengan pertanyaan sepele diatas tandanya ada yang salah didiri kalian.

Merasa kalian yang paling benar dan yang lain gak tau apa yang kalian rasakan seolah-olah mereka salah. Padahal yang mendorong itu semua adalah hanya nafsu semata kalian.

Dengan semakin banyaknya sumbu pendek begini jadi susah untuk berbincang lebih lama dan akhirnya ketika main bareng yang ada malah menikmati dunianya masing-masing. Ada yang main game, main sosmed, selfi, dll padahal esensi bertemu bukanlah itu.

Manusia dicipatkan untuk saling mengingatkan dan memberikan kabar gembira. Jika sudah begitu diawal yang seharusnya kalian bisa menerima informasi misal ada jasa skripsi kilat, lowongan pekerjaan dll, menjadi tak tersampaikan.

Yang paling utama adalah janganlah merasa kalian yang paling susah dan paling menderita dan janganlah menganggap orang lain serba enak dan bahagia. Jika begitu tidak akan ada rasa menikmati hidup.

Jangan sombong. Kadang sombong kecil itu muncul tetapi tak terasa sepeti membatin, “Ternyata masih banyak orang yang dibawahku ya”. Secara tidak langsung menganggap dirimu lebih dari orang lain.

Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "Sumbu Pendek yang Menjamah Hatimu"