Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Toxic Positivity, Baikmu yang Menyakitkanku



Euforia akhir-akhir ini adalah banyak sekali muncul yang namanya Positivity Vibes, yaitu suatu perbuatan atau lebih tepatnya perkataan supaya seseorang selalu untuk berfikir positif sehingga apa yang dilakukan dapat diterima dengan baik.

Banyak sekali akun di media sosial khususnya Instagram dan Twitter yang mengangkat tema-tema ini bahkan banyak sekali pada buku-buku leadership atau manajemen diri yang menekankan untuk selalu positive vibes dalam bertindak dan berkehendak.

Kata-kata yang sering digunakan penulis atau motivator adalah “semangat dan jangan menyerah” atau hanya sekadar “selalu pikir positif dulu, pasti ada hikmahnya”. Memang kata tersebut tidaklah salah akan tetapi kadang tidak tepat digunakan dalam berbagai hal.

Oleh karena itu, kita sebaiknya sebagai pendengar dari orang yang sedang bercerita tentang masalahnya, jangan sekali-kali untuk langsung memotong pembicaraanya apalagi langsung diberi dan dicekoki kata-kata positif.

Sebenarnya yang Diinginkan Orang yang Sedang Curhat


Mereka yang sedang curhat itu kadang tidaklah menginginkan saran atau jawaban dari pendengar, akan tetapi hanya ingin ceritanya didengarkan dengan baik bahkan sampai alur cerita yang runtut entah nanti pokok pikirannya dia akhir atau di awal, hehe.

Lebih-lebih kita tak sengaja dalam memberi kata-kata tersebut malah yang bercerita tentang masalahnya merasa direndahkan.

“Masalahmu berat sih, tapi aku yakin kamu bisa, aku saja bisa kok menghadapi masalah sepertimu ini. Aku pernah ada diposisimu”.

Nah, sering nggak sih dapat perkataan atau saran seperti itu? Kadang seperti itulah yang membuat kita menjadi direndahkan.

Masa dengan masalah seperti ini aku gak bisa menyelesaikan dan malah curhat kepada dia. Dia saja bisa menyelesaikan tanpa cerita kesiapa-siapa.

Lemahkah aku?

Sikap positif ini akan membangun pemikiran seseorang atas dua hal yaitu ketika mendapatkan keburukan maka akan merasa sedih dan duka, dan kedua ketika sudah sedih kita dibuat cacat karena sudah merasa tak bersyukur dalam menjalani hidup.

Terkadang kata-kata membandingkan masalah seseorang dengan orang lain yang hampir mirip masalahnya dengan kata-kata positif juga terkadang diartikan menusuk bagi sebagian orang. 

Akan tetapi, keyakinan tetaplah berjalan bahwa dengan berfikir positif maka akan menjauhkan yang negatif - ini benar dan tidak salah.

Repot juga jika masalah yang dihadapi oleh seseorang ditanggapi oleh orang yang kurang berpengalaman atau bahkan tidak sama sekali pernah mengalaminya. Alhasil saran yang diberikan malah membunuh seseorang.

Misalnya saja, bagaimana jika ada seseorang yang sedang mengalami masalah pelecehan seksual dan mereka bercerita pada sesorang teman atau bahkan psikolog yang tingkat ilmunya ada. Akan tetapi, jawaban si teman ini malah seolah-olah dia merasakan dan memberi saran yang menohok.

“Jangan menyerah, semua ada hikmahnya. Tuhan pasti sayang kamu dan selalu ada untuk menjagamu. Bersyukur kamu masih diberikan hidup dst…”

Begitulah kira-kira. Bagi yang sedang mengalami masalah seperti itu malah membuat dirinya semakin pesimis terhadap dirinya. Bisa jadi malah menanyakan balik “kalau begitu, dimana Tuhan ketika aku dilecehkan? Katanya sayang”. Nah, pikiran muncul secara spontan dan brutal.

Akibatnya, bisa sangatlah fatal seseorang bisa stress bahkan melakukan hal yang tidak-tidak. Alih-alih semakin bersyukur malah tersyungkur. Betapa bahayanya kalimat positif ini.

Selain itu ada juga nih kalimat yang sangat sensitif mungkin bagi kebanyakan perempuan muda. "Kok kamu cantikan aja", kemudian ditimpali dengan kalimat "Ah, cantikan kamu"

Sebaiknya yang Kita Bisa Lakukan


Dalam menghadapi fenomena ini, memang berfikir dan sangka positif adalah penting adanya dan harus. Akan tetapi, semua ada batasnya dimana kita harus berfikir untuk realistis.



Buat diri sendiri, janganlah memaksakan diri untuk selalu terlihat bahagia atau bersikap baik dengan tipu-tipu “fake”. Itu akan melelahkanmu dan ketika kepalsuanmu berlebihan malah menjadi toxic sendiri.

Kemudian, jika menanggapi masalah orang lain, jangan sekali-kali langsung memberikan pesan positif. Lebih baik dengarkan baik-baik, kemudian tanya lebih dalam supaya dapat memahami cerita yang sebenarnya.

Apabila sudah maka mintalah pilihan kepada yang punya masalah bagaimana alternatif yang bisa dia lakukan sendiri menurut dia. Jika sudah, pantau keberlanjutannya dan selalu mendengar. Jika dibutuhkan bantuan baru meberikan saran yang sesuai.

| Gambar oleh halodoc.com

Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "Toxic Positivity, Baikmu yang Menyakitkanku"