Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Positive Vibes Yang Salah Sasaran



Semakin kesini orang semakin aneh saja dan semakin mengemban banyak sekali amanat pada dirinya. Hal ini yang membuat orang menjadi tak seperti pada dirinya sebelumnya.


Tekanan semakin hari semakin besar baik pada kehidupan nyata, gaya hidup, maupun kegiatan rebahan vibes.

Tidak bisa dipungkiri, masalah demi masalah bertambah semakin jauh perkembangan zaman dan hal ini yang mempengaruhi pola pikir terhadap seseorang dimana bisa saja hal sepele menjadi masalah yang pelik dan sulit untuk diselesaikan.

Salah satu untuk menyelesaikan adalah dengan selalu berpikiran positif dan selalu mengusahakan semua perbuatan untuk positif untuk melawan hal negatif (masalah) yang menerpanya. Inilah yang kadang disebut dengan positive vibes.

Perilaku ini adalah salah satu hal yang diajarkan kepada manusia oleh Tuhan dengan beragama. Kita harus selalu bersyukur dan menerima keadaan baik itu bahagia atau sedih yang dipasrahkan kepada Tuhan.

Akan tetapi, ada hal yang menurut saya mengganggu dalam praktik perilaku postive vibes ini. Semakin kesini kok semakin melenceng dari tujuan asal mulanya. Dulunya praktik ini diberikan kepada orang-orang yang bekerja dan menjalani hidup dengan giat dan keras kemudian setelah hasilnya tidak sesuai harapan maka kita dianjurkan oleh orang-orang untuk mengingat usaha kita.

Inilah salah satu yang benar yaitu ketika orang sudah berusaha keras, kemudian dibarengi dengan berdoa kepada Allah, dan jika sudah dilakukan semua maka pasrah atas apa yang terjadi. Jika terjadi masalah diakhirnya, pasti itu bisa diselesaikan dengan baik oleh seorang hamba.


Akan tetapi, akhir ini ujaran saran-saran baik itu malah diberikan kepada orang yang belum sama sekali melakukan apa apa. Asalkan sudah “sambat” pasti sudah dianggap masalah yang harus diberikan saran-saran baik pada umumnya.

Misalnya nih, ada teman kamu yang sudah masuk pada mengerjakan Tugas Akhir atau Tugas Kerja Praktik. Akan tetapi, kegiatannya selama ini tidak mencicil dan belajar untuk segera menyelesaikannya dan malah nongkrong dan main sosmed mulu (rebahan).

Kemudian dia curhat, “Kok aku gak selesai-selesai ya, emang TA itu susah ya, dll …..”. Kemudian yang dicurhati menanggapinya dengan jawaban template “Nggak apa-apa, setiap orang ada waktunya masing-masing, gak harus kok lulus cepet”.

Nah, ya benar ada waktunya, akan tetapi yang curhat ini kan emang belum ada usaha apa-apa kayak orang yang lulus cepet itu. Wong rebahan terus malah didukung untuk santai dengan mengucapkan “gpp ada waktunya”. Ini nantinya malah semakin baik atau malah semakin menjerumuskan ke yang tidak-tidak ya.

Ada banyak masalah yang seperti ini, dimana seseorang belum menerapkan usaha, doa dan ikhtiar secara menyeluruh akan tetapi sudah menyerah dengan cepat dan malah sukanya cerita yang tidak-tidak. Dia hanya berfikir orang yang diterima kerja cepat, bisa diterima di tempat kerja yang baik, lulus tepat waktu karena unsur bejo, “Bejo lha dia ada orang dalam, bejo dosennya enak, dll”

Kita kadang memang lebih suka memutusi sesuatu untuk menutupi diri sendiri akan kekurangannya. Bukan malah postive vibes pada diri sendiri malah merendahkan orang lain dan lumrah kepada diri sendiri padahal tidak ada usaha selama ini.

Orang-orang yang mungkin kau anggap bejo, misalnya tidak mendapatkan masalah sepertimu, mendapatkan pekerjaan yang sangat baik tidak terbayangkan dan lancar dll, mempunyai hal yang ada dibaliknya. Misalnya ada unsur bejo yang memiliki dasarnya.

Apa maksudnya bejo yang ada dasarnya?

Bejo itu adalah karena orang tersebut rajin dalam beribadah, selalu membuat orang lain bahagia dan membantu ketika siapa saja membutuhkan, berbagai ilmu, tidak pernah menyakitkan orang lain, selalu belajar yang tidak ditunjukkan seperti latihan bahasa inggris, kegiatan yang mengasah softskill dan selalu berbakti pada orang tua.

Ada sebuah kisah dimana ada orang yang sangat pandai bahkan IPK 4.00 ditolak kerja karena selama kuliah jarang menjenguk orang tua. Inilah mungkin pelajaran bagi kita bahwa ada unsur bejo yang ada dasarnya. Karena bejo ada yang dari Allah karena kita dekat dengannya dan bejo yang diasah misalnya kita belajar bahasa asing, softskill tanpa harus dikoar-koarkan kepada banyak orang.

Ayokk, jangan sampai kita terbuai dengan positive vibes yang membuat kita semakin nyaman dan lambat untuk berkembang. Tetap selalu realistic postivity dimana kita selalu berfikir realistik dan berusaha supaya yang negatif dapat diselesaikan dengan problem solving tepat dan membuat hasil menjadi positif.

Positive vibes hanya berlaku untuk orang yang sudah menjalankan “Usaha, Doa, Tawakal” saja. Tidak untuk yang rebahan saja.

| Baca juga : Toxic Positivity, Baikmu yang Menyakitkanku

| Gambar oleh pixabay
Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "Positive Vibes Yang Salah Sasaran "