Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengenal Dilema Landak (Analogi Sigmun Frud) : Nyaman yang Menyakitkan



Terkadang rasa nyaman tak selamanya nikmat dan dapat dinikmati terus menerus. 

Salah satu hal yang dihadapi  manusia dalam kehidupan adalah semakin dewasa beban semakin besar, pikiran semakin banyak dan tanggungan semakin besar. Tak salah jika kadang memerlukan sebuah atau seseorang sebagai tempat untuk bersandar dan membasahinya dengan tangisan baik sedih dan bahagia.

Mungkin teori Dilema Landak ini sangat cocok untuk memahami kedewasaan manusia dengan orang sekitar yang begitu dekat.

__________
Analogi ini diartikan sebagai berikut :

Situasi dimana sekumpulan landak pada musim dingin ingin mencari kehangatan. Nah, supaya mereka mendapatkan kehangatan, landak-landak itu harus merapatkan diri satu sama lain. 

Akan tetapi karena landak memiliki banyak duri yang tajam, tidak mungkin bagi sekumpulan landak tersebut untuk saling menghangatkan diri tanpa melukai satu sama lainnya. Walaupun landak memiliki keinginan yang sama untuk saling menguntungkan, tetapi mereka terhambat oleh halangan yang tidak bisa mereka hindari. 
___________

Disinilah dilema itu muncul dimana kita dihadapkan pada pilihan saling menghangatkan (nyaman) tetapi ada yang tersakiti atau memilih untuk kedinginan entah apa nanti akhirnya siapa yang kuat menanhan rasa dingin yang menusuk tesebut.

Konsep ini dicetuskan oleh filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer dalam "Parerga und Paralipomena"  dan Sigmund Freud dalam esainya yang berjudul Group Psychology and the Analysis of the Ego 

Dengan adanya teori ini, bahwa manusia sebenarnya memiliki energi sendiri untuk menghangatkan dirinya sendiri yang terbebas dari pengaruh orang lain disekitarnya. Akan tetapi, sebagai manusia juga tidak bisa hidup sendiri sampai hal intim pun. 

Semakin dewasa, memang dilema ini muncul ditambah lagi dengan pertemanan yang semakin mengerucut. Tidak perlu teman yang banyak tetapi yang diperlukan adalah teman dekat dan dapat membantu dengan yang lainnya. 

Apalagi kalau sudah menginjak umur yang sudah waktunya lagi, juga butuh yang namanya kekasih untuk lebih dekat dan intim dalam menyelesaikan masalah-masalah yang tak harus melibatkan orang lain (privasi dan keluarga).

Misalkan saja teman yang paling dekat dengan kita. Kita sudah menganggap dia merupakan teman terdekat dan biasa curhat untuk segala hal macam bahagia dan sedih, masalah dan solusinya. Akan tetapi, ada batasnya apalagi masalah yang sudah menyangkut privasi diri sendiri.

Kita harus memberikan batas sendiri untuk itu membatasi hal-hal yang tak bisa diceritakan dengan teman dekat walaupun sebenarnya butuh bantuan. Batas inilah yang kadang menjadi pilihan bahwa landak tak selamanya saling menghangatkan satu dengan yang lainnya.

Jika dipaksakan maka akan ada pihak tersakiti. Sebagai teman dekat yang kadang "jangan diceritkan ke yang lain ya" secara tidak sengaja keceplosan jadi bahan becandaan. Bukannya sakit nantinya. Selain itu, tak selamanya semua masalah yang kita hadapi ini bisa diceritkan, kan?

Tak selamanya yang dekat ikut campur dalam masalah kita. Niatnya ingin memberi kenyamanan malah jadinya menyakitkan.

Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "Mengenal Dilema Landak (Analogi Sigmun Frud) : Nyaman yang Menyakitkan"