Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Alasan Seseorang Curhat di Media Sosial



Tak disangka-sangka banyak fenomena yang muncul akibat maraknya bahkan saking rutinnya menggunakan media sosial. Salah satunya akhir-akhir ini muncul fenomena curhat di media sosial.

Dahulu terkait dengan curhat di media sosial tidak begitu dipermasalahkan oleh banyak orang karena intensitas dan isi curhtanya tidak terlalu penting. Akan tetapi, sekarang ini semakin marak dan bahkan sudah berkaitan dengan privasi individu.

Menanggapi hal ini, sebenarnya tidak masalah juga curhat di media sosial asalkan dapat memilah mana yang baik dan tidak untuk diperlihatkan di dunia maya.

Curhat disini lingkupnya sangat luas, bukan hanya tulisan "bacot" yang sering dilontarkan kadang dengan kata-kata yang keras atau lelucon tetapi juga menggunakan kutipan-kutipan yang halus dengan tujuan menyindir orang yang bermasalah dengannya.

Akibatnya, bisa memunculkan pemikiran yang tidak-tidak buat orang lain yang kadang tidak ingin dia sindir, bisa-bisa jadi salah sasaran kan bahaya buat pertemanan. Akan tetapi diluar itu semua, tujuan orang curhat ternyata beda dengan bayangan kita yang jelak-jelak.

1) Mendapatkan Perhatian Pengikut (follower)

Pemikiran ini terjadi karena orang tersebut sudah tidak bisa lagi atau susah mendapatkan perhatian di dunia nyata. Misalnya saja, seseorang sedang mengalami masalah yang tiba-tiba sedangkan dia butuh bantuan dan dorongan minimal saran dalam penyelesaian itu. Ternyata orang disekitarnya semuanya tak menggubris dan sibuk sendiri.

2) Mendaptkan Tanggapan

Tanggapan ini bukan hanya sekadar komentar dan simpati saja, akan tetapi lebih luas dari itu. Biasanya ingin mengetahui apakah yang dia rasakan ini benar-benar bakal dirasakan orang lain dengan sedih atau biasa saja. Atau bahkan hanya ingin mengetahui apakah dengan masalahku seperti ini hanya aku saja yang mengalami dan orang lain menganggab biasa saja (?)

Tanggapan dalam media sosial sangat ekspresif sekali, selain dengan komentar kata-kata sekarang sudah ada tombol "Likes" dengan 5 kondisi emosi (suka, love, sedih, bangga, dan kaget), atau dengan aneka stiker yang lebih ekspresif lagi apalagi dengan kata "Sabar ya" atau "Semangat" saja.


Akibat berlebihan dalam bercurhat di media sosial

a) Membuka Privasi
Membuka privasi diri sangatlah bahaya apalagi kalau masalah ini sangat-sangat tidak untuk diumbar kelayak umum. Tidak hanya itu, masalah privasi biasanya sangat unik sehingga jika disajikan tidak sesuai maka bisa jadi bakal menambah masalahmu sendiri dan susah terselesaikan.

b) Kelemahanmu 
Orang lain akan semakin mengetahui apa yang menjadi kelemahanmu sehingga seseorang yang sedang bersaing atau benci bisa semakin mudah mengalahkanmu baik dalam rasa dan persaingan lainnya. 

Hal ini juga dilakukan oleh beberapa perusahaan dalam merekrut pekerjanya atau penyedia beasiswa dalam mencari penerima beasiswa. 

"Kelemahamu jangan diumbar, tetapi beri tau bahwa kamu bisa melawan atau mengelola kelemahanmu"

c) Dunia Nyata
Selain dihujat di dunia maya, maka tak lepas juga akan semakin bermasalah di dunia nyata. Apalagi terkait dengan lingkup dalam kehidupan nyata yang ruwet, bisa-bisa masalahmu sendiri pengennya curhat di media sosial malah dihujat di dunia nyata. Sudah repot malah dibuat repot karena kesalahan sendiri.

Hal yang paling utama dalam bermedia sosial adalah berlatih dalam memanajemen kata-kata dan emosi setiap membuka dan membaca informasi (diri sendiri maupun luar) sehingga tidak menjadi masalah yang berlarut-larut. Cobalah untuk mencari teman dan saudara sebanyaknya supaya tak sampai kehilangan perhatian.
Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "Alasan Seseorang Curhat di Media Sosial"