Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Curhat Masalah Sama Teman, Kok Tambah Masalah!



Setiap manusia pasti memiliki rekam jejak masing masing yang khas dan unik yang tidak sama sekali sama setiap orangnya. Hal iniliah yang membuat tidak semua hal terutama masalah sama satu dengan yang lain.

Kemampuan dalam menangani masalah ini yang menjadi hal penting dalam setiap kehidupan apalagi masalah yang bersifat pribadi dan keluarga. Walaupun memang sangat penat dan bingung tetapi tetap saja sebenarnya ada cara penyelesaiannya. Tergantung waktu dan strategi masing-masing dalam menyikapi masalah dan keuinakan dalam menyelesaikannya.

Tidak semua orang juga memiliki kemapuan dalam menyelesaikan masalah dalam waktu yang berlarut-larut. Paling mudahnya sih banyak kan anak muda yang sedang merasakan jatuh cinta pertama kali dan sayang-sayangnya, tetapi karena suatu hal mereka kandas walaupun hubungan sudah lama. Masalah yang melatarbelakangi kandasnya inilah yang diingat-ingat dan bahayanya ketika cerita jelek itu tersebar. Apa rela masalah privasi jadi publik?

Nah terkadang orang yang kurang mampu dalam memendam masalah terutama masalah privasi membuat orang tersebut menumpuk semua masalahnya dan tidak kunjung diselesaikan tetapi hanya dalam pikiran saja. Ya wajar saja tidak ada yang salah karena memang mereka kebingungan saking banyaknya masalah. Salah satu solusi yang ditawarkan-apalagi yang berkedok teman-memberikan perhatian untuk bercerita dengannya.

Bagus, salut dengan teman seperti itu. Tidak banyak lho orang yang mau menerima cerita orang lain apalagi orang yang lagi buntet dengan banyak hal padahal sang pendengar tadi belum tentu sedang tidak punya masalah yang lebih berat daripada yang curhat.

Akhir-akhir ini banyak sekali ada juga dari temanku yang sedang banyak masalah terkait pertemenan atau mungkin hal sepele bagi kita dan tidak wajar untuk dipermasalahkan. Lha kan setiap orang menganggap “hal sepele” itu berbeda.

Masalahnya adalah ketika sudah mencari tempat curhat kepada temannya sendiri bahkan kalau dilihat dari luar memang mereka akrab banget sampai-sampai makanan kesukaanpun tau. Ini teman atau teman biasa ya kira-kira.

Setelah temenku ini curhat kepada temannya yang juga temen dekatku juga, yang curhat menjadi plong karena sudah ada yang baik mendengarkan ceritanya dan menanggapi seperti solusi Golden Ways Bapak Mario Teguh tercinta. Semua berubah setelah negara api menyerang dan ternyata apinya adalah teman yang setia dan mendengarkan cerita masalahnya tadi. Lho, gimana bisa?

Jadi setelah bercerita, tak lama berselang beberapa hari temen yang dicurhati (anggap saja si Deng/Dengar) tadi berkumpul lagi dengan koloninya seperti biasa di kelas. Becandaan seperti biasa dan memang anak-anaknya ramai tak heran dan yang lainnya pun mendengarkan tidak merasa terganggu. 

Akan tetapi, ternyata ketika yang temenku yang curhat (Si Cur/Curhat) tadi nyeletuk guyonan dan ditanggapi Si Deng dengan masalah yang dialami oleh Si Cur.


Bagi Si Deng hal itu tidak menjadi masalah bahkan menjadi guyonan yang juga diikuti oleh teman-teman lainnya. Akan tetapi bagi si Cur hal ini menjadi tamparan keras dan malu ketika masalahnya yang harusnya disimpan malah diumukan secara luas sebagai guyonana. 

“Niat awalnya sih cerita biar pol eh tapi malah jadi tambah masalah saya ya”, ketika Si Cur bincang singkat denganku dan beberapa kawan lainnya.


Selain cerita diatas ada juga dan pasti banyak dialami oleh banyak orang bagaimana setelah mereka curhat dan cerita pada orang yang dianggap dekat dan bisa memberikan solusi, eh, kok jadinya malah menimbulkan kegelisahan. Kegelisahan ini bukan masalah disebarkan atau dijadikan guyonan untuk kalayak umum tetapi lebih menyakiti lagi didalam hati.



Bagaimana tidak, coba bagaimana rasanya yang kita minta saran atau solusi pada orang yang kita anggap bisa membantu masalah kita eh lahdalah, malah dia memberikan solusi yang begitu entengnya dan menganggap masalah yang diceritain tidak ada apa-apa dibanding masalah yang dialaminya.

“Wah, mosok gitu aja dipikir, gak usah dipikir lah, sans”

“Lah masalahmu gitu, lha masalahku malah lebih berat dulu”

“Coba deh kamu introspeksi diri”


Aduh, ini gimana sih maunya. Kita curhat itu sebenarnya ingin didengar saja sudah enak. Malah ditambahai dengan masalah suruh introspeksi, apalagi merendahkan yang curhat dengan menganggap masalahnya lebih ringan dibanding yang pernah dia alami. Hehh, kamu kok malah sok bisa dan sok segalanya jadinya.


Banyak sekali memang ketika kita cerita pada seseorang hal itu baik karana siapa tau ada saran-saran yang cocok bagi kita tetapi kebanyakan memang malah jadi beban dan menambah masalah saja. Makanya daripada datang ke teman yang tak tau sobo parane ya kita curhat pada keluarga dekat kita (kakak/adik).


Mbah Kiai, Solusi Masalah di Kampung


Nah kalau di masyarakat jawa, khususnya di Jawa Timur (mungkin di Jateng hampir sama) dimana disini ada peran yang sangat berat untuk seseorang yang dianggap dan diajeni memahai agama dan masalah sosial, yaitu Kiai kampung.


Bagaimana tidak, seseorang yang mempunyai masalah tidak ada yang cerita lebih banyak kepada tetangganya bahkan saudaranya sendiri. Mereka langsung sowan ke rumah mbah kiai kampung yang tau segalanya bagaimana menyelesaikan hal tersebut apalagi ditambah kesalehannya. 

Tidak ada yang khawatir ceritanya tersebar atau tidak karena yakin akan dapat solusi dan yakin orang sebaik mbah kiai tak menyebarkan itu karena amanah. Memang berat tugas kiai kampung itu, selain masalah sendiri dan siswa-siswa ngaji yang nakal ditambah lagi masalah orang tua dari siswa-siswa tersebut.

Ketika datang, Mbah Kiai langsung bisa menebak apa masalahnya. Selain karena hatinya yang bersih karena diisi oleh mengingat Pengengeran (Dzikrulloh) karena juga saking tinggi jam terbang beliau sehingga tau jika raut muka seperti ini atau cara bicara seperti itu pasti masalahnya adalah tak jauh dari ini.

Solusi dari mbah kiai juga tak banyak seperti orang yang tau segalanya dan bisa dibilang sepele. Biasanya orang yang meminta solusi disuruh mengamalkan amalan sehari-hari seperti “dzikir rajin setelah solat kalau bisa dtambah membaca sholawat setelah sholat malam”

Jika dipikir lebih dalam bukan hanya masalah dzikir rajin dan membaca sholawat saja. Akan tetapi jika orang tersebut menuruti apa yang dikatakan Mbah Kiai, jika dzikir dan sholawat lebih baik setelah sholat wajib dan malam. 

Nah secara tidak langsung orang akan rajin sholat wajib dan sholat malam ditambah amalan yang rutin sehingga bisa semakin dekat dengan Sang Kuasa. Memang sederhana tetapi dapat mengubah banyak hal menuju kebaikan dan ketaatan dalam beribadah.

Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "Curhat Masalah Sama Teman, Kok Tambah Masalah!"