Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Belum Kaffah, Sebelum Ada Linknya




Fenomena akhir-akhir ini adalah semua terkait bahkan terikat oleh yang namanya dunia maya baik media sosial atau situs berita. Semua yang tersebar menjadi suatu kebenaran yang akan mengalahkan kebenaran yang ada. Era post-truth memang bisa menjengkelkan bagi yang sudah tau.


Penggunaan kaffaf disini bukan berarti membahasa agama saja lho ya. Akan tetapi, memang akhir-akhir ini orang bebas mengemukakan pendapat bahkan menilai di dunia maya. Bak taka da tembok antara kita tetapi tak pernah memadu rasa

Kemarin sore, diwaktu luang setelah seharian sekolah tak sengaja membuka twitter hanya untuk sekadar melihat apa yang sedang trending hari ini. Ketika scrolling beranda munculah twitter dari Mbak Kalis Mardiasih seperti berikut.


“Penjelasan Gus Baha’ soal jilbb asik banget.”

Siapa yang gak tau Mbak Kalis sih. Penulis di Mojok yang sangat pandai menulis tentang dunia sekitar dengan ciamik. Nah setelah beberapa saat aku membuka replay dari cuitan ini. Banyak tanggapan yang terlontar dari netizen budiman.

“Di Youtube ada mbak ?”

“Tolong share link-nya dong mbak (kalo ada)”

“Contoh twit belum kaffah, link dong”


Tanggapan diatas membuat aku sedikit berfikir, apakah iya sih semuanya harus berkutat dengan link ? hal inilah yang mungkin banyak dimanfaatkan oleh para buzzer dan creator youtube dalam membuat konten.

Orang sekarang mudah percaya dengan apa yang beredar didalam dunia maya bahkan seolah-oleh para pembuat konten membuat narasi yang sebenarnya salah menjadi seolah-olah sangat benar. Kebenaran ini dibuktikan dengan beberapa link rujukan “video/foto/berita/artikel” dan jika sudah ada rujukan dianggap benar.

Kelemahanya (semoga aku saja) adalah tidak menelusur siapa sih yang menulis artikel yang dirujuk itu? Rujukan tersebut apakah benar-benar valid dan sudah ada pertanggung jawaban?

Karena kebanyakan yang disebar di dunia maya hanya dari blog-blog yang kadang si penulis tidak mencamtumkan alamat atau kontak sehingga kita tak tau siapa sebenanrnya si penulis ini.

Minggu ini juga diviralkan dengan sebuah draft skripsi seorang mahasiswa yang dikoreksi oleh seorang dosen pembimbing. Hal yang membuat ramai adalah tulisan “SAMPAH” dan beberapa revisi yang ditulis banyak di laporan tersebut. Setelah diunggah di dunia maya terutama di twitter, sangat viral dan di-RT(retwit) sampai ribuan kali.

Yang aneh adalah mengapa orang zaman sekarang mudah sekali untuk menilai bahkan mengolok-olok walaupun tidak tau isinya apa. Bahkan di postingan sang penyebar juga tidak menuliskan mengapa kok bisa di coret-coret dan ditulis dengan komentar “sampah” itu tadi.

Ya, mungkin karena netizen maha segalanya sehingga bebas untuk menilai dengan apa yang dipikirkan. Bahkan tidak meminta klarifikasi kepada yang menulis skripsi tersebut sebenarnya apa yang menjadi kekurangannya. Kalau dosennya gak baik gak mungkin menulis apa yang direvisi sebanyak itu? Gitu juga ada yang protes, “ya itu tugas dosen”. Hmm

Akhirnya Dosen yang membimbing memberikan klarifikasi terkait postingan yang viral ini yang intinya bahwa netizen ini tidak tau apa-apa isinya, bacapun tidak tetapi hanya melihat dua foto saja sudah menilai dengan kejelekan.

Memang kadang ingin kembali ke jaman dahulu saja. Hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya sinkroniasi antara adab dan ilmu. Bukannkah kita harus kaffah dalam hidup juga? Tapi dengan link (informasi) saja kita bisa menyalahkan orang yang bahkan kita tidak pernah ketemu sama sekali dan kita belum tau keahliannya apa.

Dulu, ketika nilai siswa yang jelek, yang dimarahin bukan gurunya tetapi anaknya dan disuruh untuk belajar lebih giat lagi jangan kebanyakan main. Tetapi sekarang? Siswa begitu diagungkan. Jika nilai jelek yang disalahin bukan siswanya (karena anak selalu didewakan dan selalu bisa) tetapi gurunya kok memberi nilai yang jelek.

Terkadang aku berfikir, bagaimana kita jika diterjunkan kedalam kehidupan yang sebenarnya? Nyinyir sana sini. Gitu bilang ibu-ibu sukanya gossip (padahal ibu-ibu itu dah kenal dengan yang di gosipin), lha situ sukanya malah sukanya menilai dan menuduh orang yang gak dikenal sama sekali. Lucu.
Jangan sampai dunia digita mengaburkan kebenaran yang haq supaya semuanya selamat dalam berkehidupan. Kita boleh belajar dari sumber digital karena memang kehidupan itu dinamis tidak boleh dipaksakan tetapi ya belajarlah pada sumber yang kredibel dan tidak mudah terhasut hanya dengan psotingan di twitter apalagi broadcast-an grup WA. Duhh.

Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "Belum Kaffah, Sebelum Ada Linknya"