Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Harmoni dan Kecintaan dalam Hati, Sufistik Sore Itu

gambar : icrp-online.com

Kemarin sore (19/10/19), kepala terasa pusing sekali dan merasakan hal yang kurang enak seluruh tubuh. Ditambah lagi dengan pikiran yang kemana-mana memikirkan hal-hal yang terkait dengan tugas serta kesibukan sehari-hari.

Karena sore itu begitu panas dan membuat gerah. Rencanya mau mandi sekitar pukul 16.30 sore akan tetapi panas semakin manjadi mungkin kondisi kamarku yang tak tersentuh lagi dengan pujian-pujian kepada-Nya.

Nah, menyempatkan dirilah membuka secarik buku yang tidak lama terbeli padahal kala itu memang malah banyak tugas yang menderah dan dipaksa untuk selesai. Tak lama melihat postingan di twitter ada pre-order buku yang ditulis oleh Mbak Kalis Mardiasi dari Mojok.co. Bayangan awal buku itu adalah untuk membuang rasa penat serta melihat kondisi akhir-akhir ini terkait dengan masifnya orang-orang yang menuju kedalam kebaikan (hijrah), Amiin.

Pas sore itu gak tau kenapa tepat membaca bagian yang menceritaka Mbak Kalis bertemu Abah (Al Mursyid Habib Lutfi Bin Yahya) yang begitu menyetuh hati menurut saya. Karena menunjukkan bahwa beragama adalah jalan untuk mencari kedamaian, ketenangan, dan menyadari bahwa kita hanya orang-orang lemah dan kecil. Seketika juga ada pesan dari whatsapp ada pengajian yang dilaksanakan di UNY yang mengundang beliau Al Habib dalam acara ulang tahun KMNU UNY dan Tirakatan Kopma UNY. Entah ini kebetulan atau tidak, bisa-bisanya tepat pada momen ini.

Suasana tenang dalam bersholawat

Acara pada poster dimulai pukul 19.30, akan tetapi saya datang sekita pukul 20.30 berangkat menggunakan motor Supra yang selalu menemani saya kemana-mana. Sampai disana ternyata acara baru dimulai dan tepat melantunkan sholawat-sholawat diiringi oleh rebana dari KMNU UNY. Acara begitu syahdu dan semua jamaah yang hadir melantunkan dengan penuh kecintaan ingin bertemu dengan Rosululloh dan pasrah kepada-Nya terlihat dari raut muka mereka.

Deg, saat itu saya juga ikut melantunkan sambil memejamkan mata berusaha untuk melupakan sejenak hal yang memusingkan saya beberapa hari ini dan hati terasa begitu nyamannya dibarengi dengan semilir angin yang datang dan dingin tidak seperti panasnya sore di kosan. Banyak sekali sholawat yang dinyanyikan mulai dari yang biasa dinyanyikan di pondok-pondok atau majelis masyarakat desa sampai yang terbaru oleh beberapa artis yang sedang naik daun.

Kemudian, saya mulai membuka mata dan melihat orang-orang yang sedang bersholawat dan mereka sangat menikmati. Ada yang bersuara lantang dan ada yang menggerakkan kepalanya pelan-pelan seperti hanyut dalam sunyinya malam dengan keindahan harapan.

Tak disangka juga, keluarlah penari Sufi (khas Turki) yang sangat terkenal di dunia tasawuf. Dari sini, saya melihat begitu nikmanya ya jika hidup itu penuh dengan keseimbangan dan kecintaan. Bagaimana tidak, para penari itu bisa menari berputar dalam beberapa jam. Bahkan diceritaka pencipta tari ini Mawlana Jalaludin Rumi dapat menari selama 3 hari.

Saya berfikir disini, bahwa sebenarnya hidup adalah sebuah pola yang berulang. Bagaimana kita harusnya mencari pola tersebut untuk mendapatkan jawaban dan jalan yang sebenarnya. Putaran tari tidak hanya harus sehat secara fisik saja tetapi juga sehat berfikiri (pola posisi kaki, tangan, badan, dan kepala) semua bagian tubuh serta hati.

Jalaludin Rumi, menciptakan tarian ini, konon ceritanya adalah karena guru beliau meninggal dunia dan untuk meresapi kesedihannya menari sambil berputar, yaitu untuk menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini adalah fana adanya.

Pola kehidupan yang sudah ditemukan akan mengantarkan kita pada ketenangan dalam segala hal baik dalam berfikir, berperilaku, dan mengambil keputusan. Ketenangan dapat mengantarkan pada tujuan utama manusia adalah kecintaan pada Sang pencipta. Karena semuanya sebenarnya akan kembali kepada-Nya dan yang memutuskan segalanya juga hanya Allah Swt.

Terceletuk dalam pikiran juga mengingat ceramah Gus Izza (Putra dari KH. Imron Jamil), yang mengatakan bahwa ibadah itu tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yaitu Allah Swt. Ibadah bukan untuk mengharapkan masuk surga dan takut akan masuk neraka, tetapi untuk mendapatkan ridho Allah Swt. semata. Karena yang menentukan semuanya (baik masuk surga atau neraka) adalah Allah Swt.

Acara itu diakhiri dengan berdoa bersama dan besholawat sebagai penutu, walauapun Al Mursyid Habib Lutfi Bin Yahya belum bisa rawuh dalam majelis tersebut, tetapi sudah sangat hadir dalam suasana acara tersebut apalagi persaaan hati saya.

Semoga kita selalu diberi petunjuk jalan yang lurus oleh-Nya dan menjadi umat yang dicintai oleh Rosululloh SAW.
Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "Harmoni dan Kecintaan dalam Hati, Sufistik Sore Itu"