Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

OTW | Kata Angker, Indah Penuh Makna, Prasangka dan Kepentingan



CAKYUS.COM - Mahasiswa dan remaja yang ikut suatu perkumpulan pastilah mengadakan rapat atau hanya temu kangen dan menunggu kehadiran semua peserta yang ikut. “Iya OTW”

Tat kala rindu mencuat suatu ketika keinginan untuk bertemu adalah menjadi obat bagi yang merasakannya. Kedua insan saling memberi janji untuk bertemu, saling menatap dan bersapa. Tetapi semua hilang akibat kata “Aku masih dijalan (otw)”.

Kalian semua pastilah ya pernah merasakan temen kalian yang sedang ada janjian atau mungkin hanya ingin kumpul, ngopi, atau rapat—rapat bagi mahasiswa/organisasi—dadakan atau tidak. Akan tetapi semua itu kebiasaannya adalah molor untuk datang janjian akibat menunggu peserta yang belum juga datang.

Seperti halnya berita akhir-akhir ini ketika Menhub meninggalkan ruang siding bersama DPR akibat siding belum dimulai padahal sudah molor 1 jam. Janjian jam 10.00 tapi jam 11.000 belum mulai. Mungkin masih ada rapat lain atau keperluan lain itu Pak Menhub si DPR-nya (lagi otw).

Memang terkadang mendengar kata “OTW” pas awal-awalnya masih baru kelihatan keren banget dah apalagi pakai bahasa inggris karena memang saya/lingkungan sangat jarang menggunakan bahasa inggris dalam keseharian, eh tiba-tiba satu orang pakai kata tersebut. Wehhh . . .

Akan tetapi, semakin lama kata tersebut menjadi kata yang sering digunakan apabila seseorang ditanyain apakah jadi datang atau tidak dalam suatu pertemuan atau kumpul-kumpul. Semua berubah setelah kata OTW menyerang.

Hanya memberi tau saja, bahwa sesuatu yang berulang kali diucapkan atau didengar akan punah dan bosan juga pada akhirnya (atau bahasa sekarang disebut dengan toxic, entah itu artinya apa). Seperti halnya lagu Sayang dipopulerkan oleh artis Via Valen, mendengar satu atau dua lagu saja mesti masih terasa indahnya tetapi ketika lagu tersebut diulang 100 kali dalam sehari? Lha modyar kowe.

Begitulah juga kata OTW yang semakin toxic karena tidak digunakan secara semestinya. Entah ini berlaku untuk di semua wilayah atau hanya di daerahku saja. Kata “otw” ini semakin hari digunakan oleh orang-orang yang beralasan saja ketika mau telat datang suatu acara. Semoga di daerah kalian tidak. Ammmm ra mungkin wkwkw.


Ketika semua orang sudah kumpul da nada satu peserta yang belum datang, ketika dihubungi “Jadi datang atau tidak?” jawabannya “Jadi, Otw skuyy”. Akan tetapi, dia akan datang sangat lama—sekali bahkan rapat sudah mau usai dia baru nongol. Alasan yang klasik pun akhirnya muncul, “Sorry tadi jalanan macet”.

Nah kan, udah tau macet kok berangkatnya malah mepet. Kata ini—otw—menjadi kata yang penuh dengan prasangka. Bukan Prasangka yang baik tetapi malah yang buruk. Benar bukan?. Seolah-olah orang yang bilang otw menjadi diabaikan dan dianggap hanya omong saja (padahal tidak mau datang atau telat). Kasihan buat orang yang benar-benar otw dan diprasangkai buruk kan.

Oleh karena itu, saya sangat senang dengan adanya prasangka ini karena otw sudah menjadi suatu kepentingan pribadi bukan umum. Karena dengan kata otw terkadang kita merasa aman dan pasti ditunggu atau bahkan kita sudah bijaksana karena telah memberi kabar dengan hanya sebuah kata “otw”. Kita menjadi males-malesan dan santai dan tidak kunjung untuk datang.

Oleh karena itu, baiknya—ini hanya menurut saya lho ya—adalah dengan memberikan informasi secara lengkap padat dan tuntas. Tidak seperti hoax yang sedang beredar. Bagaimana caranya?

Pertama, bisa dengan melakukan janjian di grup-grup media sosial (karena era 4.0 katanya) untuk janjian dan siapa saja yang izin telat, telatnya sampai jam berapa, dengan alasan apa. Ini sangat membantu dan bisa mengkondisikan rapat bisa berjalan dengan lancer dan tepat waktu. Hatipun merasa senang.

Kedua, apabila memang telat dijalan karena ada kondisi atau halangan laporkan sesuai dengan yang terjadi. Misalnya, maaf saya telat karena jalan macet dan masih mengantar ibu ke kondangan mantan pacar saya ditambahkan informasi foto kondisi yang ada. Sehingga orang akan percaya dan tidak harus mengunggu dengan ketidak pastian. Alasan jelas dan informasi jelas.

Apabila masih tidur dan belum mandi misalnya, ya katakanlah maaf masih mau mandi. Mungkin tinggal saja saya akan segera datang.


Manajemen waktu sangat penting apalagi seperti Negara Jepang yang menerapkan JIT (Just In Time). Tidak ada kata telat dan hanya denda yang bisa diberikan tidak ada kata toleransi. Untung kita di Indonesia dimana nilai toleransi masih dipegang, bahkan yang telat saja masih diberikan toleransi. Jangan sampai kemajuan Negara juga ditorenasi lho ya apalagi mentoleransi kekasih dekat dengan si dia.

Dunia kerja tidak semudah itu, sehingga marilah kita berlatih tentang namanya manajemen waktu dan tepat waktu. Ketepatan waktu menunjukkan seseorang disiplin atau tidak. Manajemen waktu adalah sebuah soft skill yang harus dilatih dan merupakan sebuah kebiasaan.

Jangan suka menunda-nunda nanti waktumu habis sia-sia, nanti rezekimu juga ditunda.
Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "OTW | Kata Angker, Indah Penuh Makna, Prasangka dan Kepentingan"