Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kebahagiaan Lebaran Yang Semakin Maya


Sumber ilustrasi : tirto.id

CAKYUS.COM Selamat merayakan hari raya idul fitri bagi semua umat islam yang merayakan serta umat agama lain yang selalu menjaga solidaritas, toleransi, dan saling menjaga keutuhan NKRI.

Idulfitri tahun ini begitu sangat meriah dibarengi dengan gema takbir yang memancar dari sisi-sisi ruang kehidupan baik dari masjid dan dari dunia lain dibalik mata hati yang kotor ini.

Oleh karena itu, tak lupa dalam menjeput perayaan Idulfitri biasanya diwajibkan menjalankan ibadah berupa zakat fitrah. Zakat fitrah jika dilihat dari mata dan pola piker yaitu waktu dimana kita berbagi kebahagiaan bersama orang lain yang juga akan merayakan hari yang suci dan hari yang lebar akan leburan.

Orang yang kurang mampu (fakir dan miskin khususnya) juga ingin merayakan kebahagiaan dan kemenangan sehingga bagi orang yang mampu menyisihkan sedikit hartanya hanya 2,5 kg makanan pokok (beras) supaya semuanya bisa merasakan makan setelah berpuasa selama satu bulan penuh.

Dalam perayaan Idulfitri selain berzakat juga diramaikan dengan gema takbi keliling dimana-mana baik di masjid sampai di jalan raya. Selain itu juga menyambangi kuburan mendiang saudara atau keluarga yang telah meninggal di sarean (kuburan) untuk mendoakan.

Semua diharapkan mendapaktan kesenangan dan kebahagiaan, yang hidup medapatkan keberkahan akan dunia dan jiwa yang bersih dengan berzakat dan yang sedang di alam lain juga mendapatkan kiriman doa serta harumnya bunga yang ditebarkan oleh sanak saudara.

Oke, setelah bertakbiran semalam suntuk, paginya kita menjalankan salat Idulfitri dipagi hari setelah matahari terbit dari—matamu yang paling indah dan selalu terbayang-bayang kenangan kita yang dulu bersama—ufuk timur.

***

Hal yang berbeda antara zaman sekarang dan lebih dulu adalah terkait dengan dunia maya dan dunia nyata. Gengsi sangat erat kaitannya anak zaman sekarang khususnya anak-anak yang lahir tahun 90-an keatas.

Bermula dari yang namanya sosial media semua bisa menjadi orang gila. Mengapa tidak, seseorang bisa merasakan bahagia dan merasa punya teman yang abadi dan sesuai dengan keinginan di sosial media. Tak salah jika banyak orang yang kepincut seseorang karena akrab di dunia internet.

Hal ini juga tak luput ketika momen lebaran seperti ini. Kita mulai dari waktu Takbiran saja, anak muda yang hitz dan punya pengikut di instagram sampai ribuan hanya memoto anak-anak yang sedang takbir di masjid. Biar apa sih? Apa biar semua orang tau bahwa kita juga meramaikan masjid dan ikut takbiran? Aku yakin hanya untuk mengajak saudara semua untuk meramaikan juga.

Lanjut saat membagikan zakat, foto dengan caption yang ciamik di instastory atau di whatsaap story. Terkadang hanya ingin menunjukkan eksistensi seseorang bahwa juga aktif di masyarakat.

Keduanya saya cukup bahagia karena memang banyak sekali sisi positifnya yaitu bisa mengajak yang melihatnya untuk termotivasi dan ikut kegiatan-kegiatan masyarakat serta mengaktifkan lagi gema kebahagiaan perayaan-perayaan yang tidak hanya sebagai seremonial upacara keagamaan.

Setelah salat Idulfitri dilanjutkan dengan melaksanakan halal bi halal dan sambaing ke sanak saudara atau orang tua. Banyak hal yang dilakukan mulai dari prosesi maaf-maafan sampai minta THR kepada Pak Dhe dan Pak Lik. Makan opor ayam bersama seharian dan ditutup dengan bawaan atau oleh-oleh dari sang pemiliki rumah sebagai tuan rumah.

Akan tetapi, bisa kita perhatikan peran gadget sangat mendominasi dari anak yang baru lahir sampai orang dewasa dimana ketika melakukan halal bi halal dipenuhi dengan main HP sendiri. Ya, memang tidak bisa dipungkiri lagi sudah eranya.

Tidak seperti zaman kita dulu ketika masih kecil dimana yang dibahas adalah masalah anaknya kelas berapa, sudah besar, dan tukar pikiran tentang obat hama wereng di sawah. Sekarang hanya dipenuhi pembicaraan oleh artis-artis instagram dan youtube serta main bareng (mabar) game yang sedang trend.

Efek sosial yang timbul, percakapan semakin pendek dan terasa semakin singkat saja. Terkadang malah tidak ada kesan yang dirasakan setelah kumpul keluarga. Tidak ada lagi pembahasan berkelit-kelit tentang “mana jodohnya, kapan lulus, dan ranking di kelas”. Karena semuanya sudah sibuk dengan permainan sendiri-sendiri.

Swafoto sana dan sini dan diakhiri dengan foto bersama keluarga se-Trah atau se-keteuruan Buyut. Tak lupa diunggah dengan ucapan yang ciamik dan manis bahkan terkadang yang membuat kata-kata itu tak bisa mengucapkan jika secara lisan. Yaa, karena tidak terbiasa dan kalah dengan lebaran online.

Semoga dengan adanya kemajuan zaman yang semakin lancer ini kita tidak sampai bodoh karena dimanja dan tidak tercela akibat tak tau adab dan sopan santun.

Tak lupa saya mengucapkan Selamat Merayakan lebaran dikampung halaman dan ratauan mohon maaf lahir batin.

Ayah dan ibumu tidak mengharapkan uang yang kamu kirimkan, tetapi ia hanya ingin bertemu dan bertepuk sapa ingin mengusap rambutmu. Le, Nduk, Ku doaakan semoga kau menjadi anak yang berbakti dan anak yang sukses.
Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "Kebahagiaan Lebaran Yang Semakin Maya"