Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Berkehidupan dengan Berkaca Diri

Berkehidupan dengan Berkaca Diri - cakyus.com

CAKYUS.COM - Semakin hari kehidupan semakin rumit apalagi semakin bertambahnya usia seseorang yang masuk dunia kedewasaan.

Kehidupan sosial berbeda dengan kehidupan dunia maya yang bisa berkata-kata dan menasihati dengan mudahnya dengan bantuan sebuah aplikasi. Kita tidak tau siapa orang tersebut dan bagaimana tingkahnya di dunia nyata.

Dalam kehidupan ini apalagi sesame orang dewasa yang sudah memiliki pilihan dan pemikiran yang lebih matang jika dibandingkan anak-anak kecil yang masih labih seharusnya kita tidak kalah dengan mereka. Pembelajaran tentang diri bisa kita peroleh dari seorang anak kecil, lho.

Mungkin ini hanya kiasan dan tidak terjadi di dunia nyata disebuah keluarga yang dikaruniani seorang anak. Ingat bahwa anak-anak lebih mudah dalam hal menirukan daripada harus belajar dan memahami sendiri hal yang rumit. Apa yang dilihatnya bisa langsung diterima dan dipraktekan.

Apalagi kepada orang tua yang sudah pasti seorang anak harus taat dan patuh kepada perintah dan nasihat orang tua (jika itu dalam kebaikan).

Contoh kecil saja ialah ketika seorang ayah yang bilang kepada anaknya, “Rewel terus, kesel bapak ki”. Mungkin itu bisa dianggap sebagai sebuah amarah orang tua dengan nada tinggi. Disini karakter anak bisa saja meniru kebiasaan yang ada dirumah dari hal kecil seperti ini.


Mengapa tidak dengan kalimat yang lebih halus untuk menasihati seorang anak? Karena anak lebih suka menirukan daripada mengikuti suatu omongan. Oleh karena itu, karakter anak menandakan kebiasaan yang ada dalam rumah tangga tersebut. Begitupun pada dunia pendidikan formal disekolah. Guru bukan hanya sebagai pengajar saja tetapi juga sebagai pendidik yang selalu menjadi suri tauladan bagi siswa-siswanya.

Anak bagaikan cermin, bila guru atau orang tua baik dalam mendidik maka anak juga akan baik dalam perilaku dan adabnya

Dalam bermasyarakat juga begitu, bagaikan anak yang berkaca pada apa yang mereka lihat (kebiasan dirumah), seseorang juga akan melihat seseorang yang menasihatinya dengan latar belakang orangnya dahulu. Tidak langsung menurut saja apa yang diomongkan oleh ustaz atau orang lain yang mungkin dianggap baik.

Karena seseorang lebih melihat pada perilaku dari si penasihat tadi. Apabila orang tersebut melakukan dengan istiqomah maka orang akan percaya pada apa yang dinasihatkan tetapi jika berkebalikan dengan apa yang dilakukan seseorang akan tidak percaya dan abai.

Untuk itu, kita harus selalu berkaca diri sebelum menasihati jangan sampai kita hanya dikira bisa omong saja tanpa adanya tindakan riil. Apabila kita belum bisa melakukannya lebih baik kita perbaiki diri kita sendiri dahulu sebelum berani menasihati orang lain.
Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "Berkehidupan dengan Berkaca Diri"