Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SULAK | #4 - BAGAIMANA SAYA HARUS PERCAYA ANDA?

SULAK | #4 - BAGAIMANA SAYA HARUS PERCAYA ANDA? cakyus.com

Baca Cerita Sebemulnya : Sulak | #3 - Kebenaran dan Keharusan

CAKYUS.COMTidak ada orang yang dapat hidup sendiri di dunia ini, sehingga harus saling bersinergi dengan komponen yang ada salah satunya antar manusia yang melibatkan tentang “kepercayaan” 

Karto sudah akan memasuki jenjang yang lebih tinggi yaitu akan masuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sebelum masuk ya pastinya harus lulus dulu kelas enam dengan mengikuti rangkaian ujian seperti Ujian Akhir Sekolah, Ujian Praktik dan tak kalah menakutkannya adalah Ujian Nasional.

Di zaman Karto, memang ujian nasional menjadi salah satu penentu kelulusan dan harus diatas nilai minimal.

- - - -

Bulan April kemarin, Karto, Aisyah dan Sutris menjalani ujian semester dua kelas VI dan seperti biasanya Karto selalu duduk di depan dibarisan kedua dan Aisyah di depan sendiri tepat didepan bangku pengawas.

Ujian dilaksanakan selama seminggu penuh sampai hari Sabtu. Ketiganya merasa sangat bisa dan lancar mengerjakan ujian dan yakin bisa dapat nilai yang memuaskan seperti biasanya.

Seminggu setelahnya pengumuman nilai keluar dan biasnya ada pengumuman remedial untuk beberapa siswa yang nilainya kurang. Di sekolahan Karto penilaian tidak murni dari ujian saja tetapi dari PR dan Tugas kelas yang diberikan juga.

“Heh, To, kok kamu remidi mata pelajaran IPA? Kan kamu ahlinya?”, tanya Sutris yang tidak mendapat remedial sama sekali.

“Lah, iyo to? Mosok sih, aku kemarin bisa ngerjain lho kok remidi sih?”, Jawab Karto dengan terkagetkan.

Karto langsung lari ke bagian pengumuman yang ditempel di depan ruang guru tersebut. Disana juga banyak siswa lain sedang lihat pengumuman dan Karto menjadi pembicaraan teman-temannya mengapa bisa remidi.

"Asyiiii, kok iso nilaiku gak keluar ki pye?"

Setelah melihatnya, Karto langsung masuk ke ruang guru dan menemui guru pengampunya untuk menanyakan perihal nilainya yang ternyat tidak keluar dan dianggap remidi.

- - - -
Pak Guru—beliau bernama Pak Gik—sedang duduk sambil merekap nilai yang sudah masuk untuk kelas lain dan menikmati secangkir kopi yang tinggal setengahnya.

“Permisi Pak”, Karto tepat didepan tempat duduk Pak Gik.

“Oh, iya Karto, monggo duduk dulu dan ada keperluan apa nak Karto?”, sambil menyeruput kopi hitamnya , "Tak sambi ngopi dulu ya Nak Karto, srupttttt".

“Begini pak, Saya mau menayakan terkait nilai IPA saya yang kemarin, kok dipapan pengumuman saya remidi ya Pak dan disana tidak muncul nilai saya berapa padahal yang lain muncul nilainya?”, bertanya dengan hati sedikit kecewa.

Pak Gik menutup sedikit laptopnya, lanjut mencari lembar ujian anak kelas enam dan mencari nama Karto. Setelah selama 5 menit dicari ternyata tidak ada nama Karto di kumpulan tersebut.

“Kok saya tidak menemukan namamu ya? Coba ini kamu cari sendiri ya”, sambil memberikan setumpuk lembar jawaban.

Karto mencari secara teliti dan berharap ada lembar jawabannya. Memilah satu persatu sampai memelintir setiap lembar kertas siapa tau kertas jawabannya menempel dengan lembar yang lainnya.

Hampir sepuluh menit berlalu dan Karto mulai gelisah karena tidak menemukan namanya dan kopi Pak Gik sudah tinggal ampasnya. Karto melihat ada kertas jawaban yang tidak ada namanya dan familiar dengan tulisannya. Sambil mengingat-ingat ternyata itu adalah benar punya dia dilihat dari pola jawabannya.

“Ini Pak Gik”,sambil menyodorkan lembar jawaban tanpa nama tadi.

“Loh ini punyamu? Kok gak ada namanya?”, jawab sambil sedikit senyum.

Pak Gik sebenarnya sudah tau kalau itu lembar jawaban Karto. Kemudian Pak Gik menjelaskan bagaimana seseorang harus percaya. Pak Gik pertama menyakan kepada Karto, “ bagaimana jika saya tidak percaya denganmu Karto kalo itu benar jawabamu?”.

Padahal memang dikelas selalu diingatkan bahwa sebelum mengerjakan dan selesai ujian untuk mengecek nama dan nomor identitas ujian. Tujuannya untuk memudahkan dalam merekap dan mengoreksi jawaban nantinya. Memang ini hal kecil tetapi hal kecil itulah yang membuat Karto bisa remidi.

“Bagaiman Saya bisa percaya bahwa ini adalah pekerjaan kamu Nak Karto, sedangkan kamu dengan hal sepele seperti nama saja tidak bisa melakukan apalagi melakukan hal yang susah dan kompleks serta ini nilainya paling tinggi dikelas lho?”, kata Pak Gik. (***)

Kemudian Karto terdiam dan meresapi bahwa memang pintar itu tidak boleh sombong apalagi melupakan hal-hal kecil padahal itu bisa jadi sangat penting. “Bodohnya aku”. Kemudian Karto izin untuk keluar ruang Guru dan pamit pada Pak Gik untuk belajar lagi dan menerima kesalah sepelenya.

“Karto sini, kamu gak usah remedial lagi, wong nilaimu paling bagus kok dikelas, tapi ingat kata-kata Pak Gik tadi ya”, Pak Gik yang tersenyum bangga melihat murid yang satu ini.

Karto menunjukkan kewibawaanya dalam menanggapi masalah yang dihadapi dan selalu adap asor terhadap guru. Karto semakin bijaksana dan ada pesan untuk Karto dari Pak Gik.

Pak Gik memberikan pesan bahwa Karto sebentar lagi akan memasuki jenjang yang lebih tinggi baik masalah pendidikan maupun masalah akhlak (pergaulan). Jangan sampai nanti Nak Karto terjerumus dan ikut-ikutan hal kecil yang kelihatannya kecil tetapi dapat merusak Nak Karto yang baik dan pinter.
__________________
Catatan :
***) kata-kata ini terinspirasi dari pengalaman seorang guru yang mengajar dikelas saat menyeleksi lomba.

Baca cerita selanjutanya : Sulak | #5 RASAN-RASAN SAAT PUASA
Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "SULAK | #4 - BAGAIMANA SAYA HARUS PERCAYA ANDA?"