Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SULAK | #3-KEBENARAN DAN KEHARUSAN

BAGIAN 3 – KEBENARAN DAN KEHARUSAN CAKYUS.COM

Baca cerita sebelumnya : Sulak | #2 -Papan Tulis 

CAKYUS.COM - Setiap perjalan pasti terdapat soal yang mudah dan susah untuk diselesaikan bahkan ada yang sudah ada jawabannya dan diakui secara umum.
Setelah selesai kelas sekitar pukul 13.00 WIB, Karto, Aisyah dan Sutris pulang bersama dan jalan kaki. Kebiasaan ini dilakukannya sudah sejak kelas 3 lalu dan tidak merepotkan kedua orang tua mereka.

Diperjalanan, ketiganya melewati jalan yang sering dilewati dan yang paling seru ketika melewati jembatan kecil dari bambu yang sudah tua tetapi itu merupakan akses paling dekat untuk sampai dirumah. Hati-hati karto lewat duluan kemudian disusul Aisyah dan terakhir oleh sutris.

Apesnya saat itu, botol minum Sutris jatuh ke kali-sungai kecil- dan untungnya airnya tidak deras. Terpaksa Aiysah dan Karto menunggu Sutris mengambil botol tersebut yang jalannya licin dan berlumpur karena habis hujan.

Sambil menunggu Sutris mengambil botol, Karto keinget tentang hasil ujiannya dan bertanya pada Aisyah yang merupakan juara kelas sejak kelas 1.

“Eh, Syah. Tadi kamu dapet nilai berapa PPKN ? kok ini jawabanku sudah benar tetapi salah ya?”, tanya karto pada Aisyah.  

“Gak tau juga, tadi aku Cuma dapat nilai 80 saja, dan jawabanku juga sama punyamu tetapi kok salah ya”, gelisah melihat hasil nilainya.

Tiba-tiba, Sutris naik dan berhasil membawa botolnya dengan selamat tetapi dengan celana sekolah yang agak kotor karena lumpur padahal besok dipakai untuk sekolah lagi. Sutris tidak memikirkan itu karena bisa langsung dicuci dan dijemur mumpung masih siang.

Sutris mendengar percakapan keduanya dan menyautnya, “Oh, itu jawabanku bener, nih coba lihat jawabanku”.

Karto dan Aisyah kaget karena jawaban tidak sesuai dengan apa yang dilakukan Sutris. Padahal persoalnya adalah tentang tindakan yang pernah dilakukan dalam bermasyarakat tentang masalah tertentu.

Kemudian Karto menjawab dengan mudahnya dan menjelaskan. “Kalian dulu waktu kelas satu ingat pertanyaan ini?”. Sutris mengingatkan keduanya tentang pertanyaan siapa yang menata kamar tidur setelah kita tidur.

Jawaban yang sebenarnya terjadi seharusnya adalah “IBU”, karena memang dirapikan ibu dan kita mandi kemudian sarapan. Akan tetapi jawaban yang sebenarnya terjadi itu malah disalahkan oleh guru dan jawaban yang benar adalah “Diri Sendiri”.

Nah, terkadang kita mendapatkan nilai yang baik itu tidak harus apa yang sebenarnnya terjadi tetapi jawablah dengan apa yang seharusnya terjadi.

Penilaian ini dipakai terus menerus dan turun temurun, sehingga kadang kejujuran itu kalah dengan keharusan. Sutris juga bilang, cari nilai atau wajah yang baik didepan orang itu gampang, karena penilaian orang sekarang itu bukan pada apa yang kita lakukan sebenarnya tetapi jawablah semuanya dengan “kebaikan” yang diakui secara umum.

Aisyah dan Karto, mulai paham bahwa ada masalah dengan pendidikan di sekolah berbeda dengan apa yang diajarkan ketika mereka mengaji di TPA, bahwa tidak ada penilaian “rapor” kalau di TPA.

Akan tetapi, sudah siap atau belum untuk naik kelas dengan ujian yang benar-benar ‘sebenarnya’ bukan seharusnya. TPA kita diajarkan pembentukan akhlak dan tata karma, tetapi sekolah belum tentu karena fokus di “pembelajaran kognitif” bukan “pendidikan”

"Seperti halnya aku yang ketika sedih sebenarnya tidak ingin tersenyum didepanmu, karena aku menjaga hati dan perasaanmu maka aku seharusnya tersenyum dihadapanmu, walaupun kadang senyumku bohong"

Cerita selanjutnya : Sulak | #4 (segera)
Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "SULAK | #3-KEBENARAN DAN KEHARUSAN"