Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SULAK | #2 - PAPAN TULIS


SULAK | #2 - PAPAN TULIS - CAKYUS.COM

Baca cerita sebelumnya : Sulak | #1-Masuk Sekolah

Setiap hari karto berangkat sekolah jalan kaki karena rumahnya tak jauh dari tempatnya menuntut ilmu bersama sahabat karibnya sejak ia kenal masuk SD. Ia Si Sutris, ahli matematika dan hal perhitungan. Sutris sering sekali mengikuti lomba matematika tingkat SD walaupun masih kelas 3 dan 4 SD padahal yang biasa mewakili lomba adalah kelas 5 dan 6 SD.

Kepintaran Sutris berlogika matematika ini diturunkan oleh ayahnya yang setiap hari bekerja mengukur dan memasang paku di kayu-sebagai tukang kayu-dengan keahlihan membuat rancangan untuk atap rumah. Sutris biasa disuruh untuk mengukur kayu untuk bahan membuat rancangan.

Papan Tulis

"

Kelas pertama pagi hari 07.00 wib dimulai dengan pelajaran Matematika yang diampu oleh Bu Shinta yang sudah menjadi guru selama 15 tahun di sekolahan tersebut.

Setalah membaca doa sebelum belajar, Bu Shinta menulis soal-soal kuis yang materinya belum diajarkan sebelumnya sebanyak lima soal isian singkat. Kemudian siswa disuruh untuk mengerjakan soal-soal yang dinggap mudah selama 15 menit.

Karto, yang memang bukan ahlinya di bidang matematika karena lebih suka mata pelajaran IPA, kebingungan mengerjakan soal tersebut. Karto langsung diam-diam menanyakan jawabannya kepada Sutris yang ahli matematika tadi tetapi sutris ternyata juga tak mampu untuk mejawab soal Bu Shinta.

Setelah 15 menit berlalu, Bu Shinta sebenarnya tidak berharap pada siswa yang mampu mengerjakan soal tersebut dan menyuruh Karto untuk menghapus papan tulis yang berisi soal-soal dan ditulis dengan “kapur” putih.

Bu Shinta - yang perawakannya sangat sabar dan kalem sehingga disukai oleh banyak siswanya- menanyakan kepada semua siswa dikelas 5 itu tentang apa yang sebenarnya Bu Shinta maksudkan.

“Oke, semuanya! Tadi benar gak ada yang bisa jawab? Sebenarnya Ibu tidak ingin memberikan soal tadi kok, tapi ada yang tau maksud Ibu tadi apa?”, tanya Bu Shinta dengan suara lembutnya.

Aisyah, teman sekelas Karto yang aktif menjawab apa yang dipertanyakan oleh gurunya tadi. Dia menjawab dengan sambil berfikir sebenarnya apa sih maksudnya dengan memandang papan tulis yang telah dihapus oleh Karto tadi.

“Anu Bu, biar kita mempersiapkan diri dan berusaha belajar sebelum masuk kelas dengan materi baru”, jawaban kritis yang dilontarkan oleh Aisyah.

Kemudian Bu Shinta menanggapi dengan senyuman dan meberikan jawaban “ya, hampir benar tapi bukan itu, ada yang lain?”.

Jawaban Aisyah yang begitu kritis yang tak terpikirkan oleh Karto pun masih salah, Sutris masih memikirkan bagaimana bisa seorang Sutris tidak bisa mengerjakan soal tersebut padahal dia kan sering ikut lomba juga.

Satu kelas diam selama lebih dari 10 menit dan Bu Shinta bertanya pada Sutris, “Tris, kamu lihat papan tulis itu? Menurutmu setelah dihapus oleh Karto, bersih gak? Dan bisa untuk ditulisi lagi?”. Hal ini sontak mengagetkan Sutris dan dengan kagetnya dia menjawab, “Bersih Bu”, jawab Sutris.

Kemudian Karto yang pemikirannya lebih berlogika tadi langsung memberikan reponya dan menjelaskan alasannya Bu Guru memberikan soal tersebut.

Sebenarnya soal tadi tidak penting dan memang dibuat tidak bisa dikerjakan oleh karto dan kawan-kawan. Tetapi lebih fokus pada bagaiman membersihkan papan tulis dengan menggunakan Sulak tadi.

Tadi Karto kebingungan untuk menghapus papan tulis karena penghapusnya tidak ada, kemudian Karto berinisiatif untuk menghapus dengan sulak yang walaupun kecil tapi tetap bisa.

“Bersih” kata yang ditanyakan Bu Shinta artinya bahwa dalam mebersihkan jiwa dan dosa yang diajarkan dalam pelajaran agama kemarin, ibadah rutin itu wajib tetapi kita juga harus beramal. Membersihkan jiwa bisa dengan beramal kepada orang yang tidak mampu dengan bersedekah.

Tetapi bagaimana jika tidak punya uang ? 

Kita harus berinisiatif bahwa amaliah tidak harus dengan uang atau harta benda tetapi bisa dengan perbuatan dimana kita meninggalkan hal yang buruk yang kemarin kita lakukan, membantu sebisa mungkin pekerjaan orang tua atau menerima dengan lapang dada jika ada yang menyuruh mengantarkan undangan “kendurenan”.

Jawaban Karto sangat cantik bahkan Bu Guru memberikan coklat yang sudah beliau siapkan sebelumnya untuk siswa yang memang berfikiran lebih dan mau menjawab. “Begitu maksud ibu tadi anak-anak, jadi dalam matematika kita harus mencari solusi-solusi lain dalam menyelesaikannya begitupun dalam kehidupan”

Batin Bu Shinta, “Kok pikiran Karto sampai kesitu ya? Jauh sekali”. 


Baca selanjutnya : Sulak | #3 - Kebenaran dan Keharusan
Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "SULAK | #2 - PAPAN TULIS"