Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CINTAKU ITU DARI PANDANGAN PERTAMA

Cinta Dari Pandangan Pertama | sumber : pixabay.com

Jika jatuh rasanya sakit, mengapa berbeda dengan jatuhnya cinta? Yang katanya rasanya nikmat bahkan dunia hanya milik rasaku dan rasamu saja.

Begitulah kiranya kebanyakan orang dan termasuk aku, dimana sering sekali dihadapkan pada pilihan. Ya, karena kita hidup sebagai manusia. Manusia memiliki keistimewaan karena diberikan hak untuk memilih mana yang sesuai dan tidak sesuai, khususnya mana yang baik dan tidak baik.

Sebenarnya baik dan tidak baik itu relatif tergantung konteks pembicaraan, lingkungan sosial, atau gejolak dalam hati. Misalnya saja nih, kita sudah berpisah dengan kekasih kita yang dulu yang baik banget pada kita. Alih-alih persahabatan semakin raket, setelah tidak bersama menurut mereka, mantan mereka tidak baik.

Nah loh, berarti baik tidaknya tergatung gejolak asmara kan ya. Kita bahas dulu yang simple berdasarkan pengalaman terkait dengan apakah benar cinta berasal dari pandangan pertama?

Suatu hari, disaat bulan puasa sudah menunjukkan tanggal tua, biasanya aku dan ibukku pergi ke pasar besar. Tidak menye-menye hanya untuk membeli baju baru yang akan kukenakan nanti di hari yang fitri. Bukan fitri yang lain dan belinya hanya baju baru tidak untuk celana baru.

Ketika sudah sampai dipasar, kami langsung pergi ke lantai dua pasar besar karena tempat pakaian dan lantai satu untuk tempat makanan dan buah-buahan. Keliling di lantai dua selama sekitar 1 jam mata tertuju pada wanita penjaga yang cantik dan ramah bahkan menawarkan nomor WA baju batik yang bewarna merah dan lumayan kelihatannya.

Akhirnya aku bertanya pada penjualnya apakah boleh dicoba bajunya, dan ternyata boleh. Penjual mengambil baju tersebut dengan “genter”—sejenis kayu panjang untuk mengambil baju yang letaknya tinggi—dan ku pakai baju tersebut. Ibuku memandangi aku memakai dan bilang “wes le apik, pas karo awakmu lan ganteng anak’e buk’e”.

Kemudian, ibuku langsung menanyakan harga. Ternyata harganya mahal dan tidak cukup untuk kantong ibuku. Menawar dengan jurus ibu-ibu yang handal, dan tetap ternyata penjual lebih hafal kelakuan ibu-ibu ketika menawar.

Akhirnya, kami muter-muter lagi sekitar satu jam ada batik yang hampir mirip toh tak sesuai dengan hatiku dan ketika kupakai tak begitu cocok menurut ibuku. Akhirnya ku kembali pada pandangan pertama mbak-mbak yang cantik dengan senyuman yang merah dipipinya pada baju batik yang mahal tadi.

Dengan tetap mencoba menawar, akhirnya harganya sedikit turun dan aku mendapatkan cinta pertamaku dari pandangan pertama yang sejak awal sudah kuincar tadi.

Itulah bukti bahwa cinta berasal dari pandangan pertama. Kemudian, bagaimana dengan cintamu padanya?

Zaman sekarang cinta dari pandangan di sosial media pertama. Lihat poto profil sosmednya. Kelihatan cantik (karena aku cowok), langsung follow, minta follback. Kenalan lewat sosmed dan pindah ke WA. Hiya-hiya. Ingat ya itu hanya modus saja.

Yang jadi masalah bukan itu, tetapi bagaimana kita memanfaatkan media sosial sebagai ajang untuk mencari kebermanfaatan, boleh juga sebagai tempat cerita jika itu baik untuk di publish. Banyak terjadi masalah apalagi urusan asmara jika kita salah menggunakan sosial media dalam artian kurang bijak.

Akhir-akhir ini juga ada berita tentang pengkroyokan anak SMP oleh anak SMA, dan heboh sejagad dunia maya dan nyata. Tetapi, setelah dilakukan visum tidak sesuai dengan apa yang diutarakan korban di sosial media yang sangat viral tesebut. “Korban belum tentu benar dan pelaku pasti salah”, itu yang bisa kukatakan karena aku tak mengikuti beritanya.

Nah, masalah asmara, pernah gak kalian merasakan rasa pertama dengan seseorang dan sekarang sudah tak bersama lagi? Ku kira pernah lha ya dan pasti ada kenangan terindah karena berkaitan dengan “pandangan pertama”.

Jika mau move on, pasti yang kalian lakukan adalah memandang dan baru merasakan. Tidak ada ceritanya cinta naik dari kaki naik kehati. Dari nginjak tai eh jatuh cinta. Adanya dari mata turun kehati, dari dari rasa untuk bisa memiliki.

Memang pandangan harus dijaga, khususnya untuk laki-laki. Pandanganmu bisa membuyarkan tingkat “ingatan mu” makanya kamu susah ngafalin nama-nama mantanmu saking banyaknya mata kuliah dan nilai pas-pasan pada IPK.

Bagaimana kita bisa mencintai yang tak kasat mata, jika kita tak belajar dari mencintai yang bisa kita lihat dahulu?

Gampangnya, kita bisa dan sangat mencintai Sang Pencipta kita jika kita tau tanda-tanda kebesaran dan ciptaan-Nya. Kita akan sangat mencintai Sang Pencipta jika kita juga mencintai ciptan-Nya (misal kekasih kita yang sangat kita sayangi). Sang Pencita-lah cinta yang paling sempurna dan utama. Sedangkan cinta antar makhluknya hanya titipan saja.

Jangan komentar, takut malu. Cukup follow aja akun instargram saya di @yusufabdhul
Mas Yusuf
Mas Yusuf Menyapa saya di : @yusufabdhul

Post a comment for "CINTAKU ITU DARI PANDANGAN PERTAMA"